Cursor

Hatsune Miku

Musik

Rabu, 06 Januari 2016

Sejarah Alat Musik Angklung

Angklung
Asal Usul :
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak pada waktu itu.
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.
Pengertian :
Angklung adalah alat musik  multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.
Manfaat :
Untuk Terapi pasca Stroke dan mengurangi rasa depresi
Penemu :
Penemu angklung adalah Daeng soetigna
Cara pembuatan nya :
1.pemilihan bambu yang baik .
usia bambu minim 4 tahun dan maksimal 6 tahun,di potong pada musim kemarau pukul 09-03
sore,pemilihan ukuran 2-3 jengkal jari dari permuka’an tanah , setelah itu di simpan sekitar 1 minggu untuk memastikan benar’’ tidak ber air .
setetlah satu minggu bambu di potong’’ dengan berbagai ukuran .lalu di simpan selama ± 1 tahunan .
cara penyimpanan yang baik adalah dengan merendamnya di genangan lumpur ,atau di asapi ,dan dengan prosedur tertentu (di beri cairan kimia tertentu )untuk mencegah nya dari hama .
2.bagian’’ bambu yang di gunakan .
a.tabung suara , ini adalah bagian terpenting yang mengahasilkan intonasi .
b.kerangka tabung ,ini untuk bagian berdirinya bambu .
c.dasar , berfungsi sebagai kerangka tabung suara
3. proses penyeteman .
-proses penyeteman , ini adalah meniup bagian bawah tabung dan menyakan suara ke tuner.
-proses utama penyeteman, dalam proses in di gunakan untuk meninggikan dan menurunkan nada dengan menyembunyikannya .memotong sedikit bagian atas bambu untuk Meniggikan nada dan menyerutnya untuk merendahkan nadanya .
-cara menggunakan alat tuner ,kita memperhatikan lampu sebelah kanan maupun kirinya ,dan juga jarum penunjuk .
4-akhiran pembuatan .
Setelah selasai menyetel nada tabung harus diletakkan dan di ikat dengan tali rotan .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar